1 Arsitektur, Sejarah, Standarisasi dan Trend

Zaman sekarang, Internet dan World Wide Web (WWW) sangat populer di seluruh dunia.

Banyak masyarakat yang membutuhkan aplikasi yang berbasis Internet, seperti E-Mail dan

akses Web melalui internet. Sehingga makin banyak aplikasi bisnis yang berkembang

berjalan di atas internet. Transmission Control Protocol/Internet Protocol (TCP/IP)

merupakan protokol yang melandasi internet dan jaringan dunia. Pada bab ini, akan

dijelaskan tentang protokol TCP/IP, bagaimana internet terbentuk, dan bagaimana

perkembangannya kedepan.

1.1 Model Arsitektur TCP/IP

Protokol TCP/IP terbentuk dari 2 komponen yaitu Transmission Control Protocol (TCP) dan

Internet Protocol (IP).

1.1.1 Internetworking

Tujuan dari TCP/IP adalah untuk membangun suatu koneksi antar jaringan (network), dimana

biasa disebut internetwork, atau intenet, yang menyediakan pelayanan komunikasi antar

jaringan yang memiliki bentuk fisik yang beragam. Tujuan yang jelas adalah menghubungkan

empunya (hosts) pada jaringan yang berbeda, atau mungkin terpisahkan secara geografis

pada area yang luas.

Gambar  1.1 Contoh Internet – Dimana keduanya terlihat dalam sama sebagai 1 logikal jaringan

Internet dapat digolongkan menjadi beberapa group jaringan, antara lain:

 Backbone: Jaringan besar yang menghubungkan antar jaringan lainnya. Contoh :

NSFNET yang merupakan jaringan backbone dunia di Amerika, EBONE yang

merupakan jaringan backbone di Eropa, dan lainnya.

 Jaringan regional, contoh: jaringan antar kampus.

 Jaringan yang bersifat komersial dimana menyediakan koneksi menuju backbone

kepada pelanggannya. 

7

 Jaringan lokal, contoh: jaringan dalam sebuah kampus.

Aspek lain yang penting dari TCP/IP adalah membentuk suatu standarisasi dalam

komunikasi. Tiap-tiap bentuk fisik suatu jaringan memiliki teknologi yang berbeda-beda,

sehingga diperlukan pemrograman atau fungsi khusus untuk digunakan dalam komunikasi.

TCP/IP memberikan fasilitas khusus yang bekerja diatas pemrograman atau fungsi khusus

tersebut dari masing-masing fisik jaringan. Sehingga bentuk arsitektur dari fisik jaringan

akan tersamarkan dari pengguna dan pembuat aplikasi jaringan. Dengan TCP/IP, pengguna

tidak perlu lagi memikirkan bentuk fisik jaringan untuk melakukan sebuah komunikasi.

Sebagai contoh pada Gambar   1 .1, untuk dapat berkomunikasi antar 2 jaringan, diperlukan

komputer yang terhubung dalam suatu perangkat yang dapat meneruskan suatu paket data

dari jaringan yang satu ke jaringan yang lain. Perangkat tersebut disebut Router. Selain itu

router juga digunakan sebagai pengarah jalur (routing).

Untuk dapat mengidentifikasikan host diperlukan sebuah alamat, disebut alamat IP (IP

address). Apabila sebuah host memiliki beberapa perangkat jaringan (interface), seperti

router, maka setiap interface harus memiliki sebuah IP address yang unik. IP address terdiri

dari 2 bagian, yaitu :

IP address = <nomer jaringan><nomer host>

1.1.2 Lapisan (layer) pada Protokol TCP/IP

Seperti pada perangkat lunak, TCP/IP dibentuk dalam beberapa lapisan (layer). Dengan

dibentuk dalam layer, akan mempermudah untuk pengembangan dan pengimplementasian.

Antar layer dapat berkomunikasi ke atas maupun ke bawah dengan suatu penghubung

interface. Tiap-tiap layer memiliki fungsi dan kegunaan yang berbeda dan saling mendukung

layer diatasnya. Pada protokol TCP/IP dibagi menjadi 4 layer, tampak pada Gambar   1 .2.

Gambar  1.2. Protokol TCP/IP

8

Layer Aplikasi (Aplications) Layer aplikasi digunakan pada program untuk

berkomunikasi menggunakan TCP/IP. Contoh aplikasi

antara lain Telnet dan File Transfer Protocol (FTP).

Interface yang digunakan untuk saling berkomunikasi

adalah nomer port dan socket.

Layer Transport Layer transport memberikan fungsi pengiriman data secara

end-to-end ke sisi remote. Aplikasi yang beragam dapat

melakukan komunikasi secara serentak (simulaneously).

Protokol pada layer transport yang paling sering digunakan

adalah Transmission Control Protocol (TCP), dimana

memberikan fungsi pengiriman data secara connection-

oriented, pencegahan duplikasi data, congestion control

dan flow control. Protokol lainnya adalah User Datagram

Protocol (UDP), dimana memberikan fungsi pengiriman

connectionless, jalur yang tidak reliabel. UDP banyak

digunakan pada aplikasi yang membutuhkan kecepatan

tinggi dan dapat metoleransi terhadap kerusakan data.

Layer Internetwork Layer Internetwork biasa disebut juga layer internet atau

layer network, dimana memberikan “vitual network” pada

internet. Internet Protocol (IP) adalah protokol yang paling

penting. IP memberikan fungsi routing pada jaringan dalam

pengiriman data. Protokol lainnya antara lain : IP, ICMP,

IGMP, ARP, RARP

Layer Network Interface Layer network interface disebut juga layer link atau layer

datalink, yang merupakan perangkat keras pada jaringan.

Contoh : IEEE802.2, X.25, ATM, FDDI, dan SNA.

Secara detail dapat digambarkan pada Gambar   1 .3.

Gambar  1.3. Detail dari Model Arsitektur

1.1.3 Aplikasi TCP/IP

Level tertinggi pada layer TCP/IP adalah aplikasi. Dimana layer ini melakukan komunikasi

sehingga dapat berinteraksi dengan pengguna.

9

Karakteristik dari protokol aplikasi antara lain:

 Merupakan program aplikasi yang dibuat oleh pengguna, atau aplikasi yang

merupakan standar dari produk TCP/IP. Contoh aplikasi yang merupakan produk dari

TCP/IP antara lain :

o TELNET, terminal interaktif untuk mengakses suatu remote pada internet.

o FTP (File Transfer Protocol), transfer file berkecepatan tinggi antar disk.

o SMTP (Simple Mail Transfer Protocol), sistem bersurat di internet

o dll

 Menggunakan mekanisme TCP atau UDP.

 Menggunakan model interaksi client/server.

1.1.3.1 Model Client/Server

TCP adalah peer-to-peer, protokol yang bersifat connection-oriented. Tidak ada hubungan

tuan dan budak (master/slave), tetapi banyak aplikasi yang bersifat client/server.

SERVER adalah aplikasi yang memberikan pelayanan kepada user internet. CLIENT adalah

yang meminta pelayanan. Aplikasi bisa memiliki bagian server dan bagian client, dimana

dapat berjalan secara bersamaan dalam 1 sistem. 

Server merupakan progam yang dapat menerima permintaan (request), melakukan pelayanan

yang diminta, kemudian mengembalikan sebagai reply. Server dapat melayani multi request

bersamaan.

Gambar  1.4. Model Client-Server

Server bekerja dengan cara menunggu request pada port yang sudah terdaftar, sehingga client

dapat dengan mudah mengirimkan data ke port pada server.

1.1.4 Bridge, Router dan Gateway

Ada beberapa cara untuk memberikan koneksi ke jaringan. Pada internetworking dapat

dilakukan dengan router. Pada bagian ini akan dibedakan antara bridge, router dan gateway

dalam mengakses jaringan.

10

Bridge Menghubungkan jaringan pada layer network interface dan meneruskan frame.

Bridge juga berfungsi sebagai MAC relay. 

Bridge juga transparant terhadap IP, artinya apabila suatu host mengirim IP

datagram ke host yang lain, IP tidak akan di awasi oleh bridge dan langsung

cross ke host yang dituju.

Router Menghubungkan jaringa pada layer internetwork dan mengarahkan jalur paket

data. 

Router mampu memilih jalur yang terbaik untuk pengiriman data, karena

memiliki routing.

Dikarenakan router tidak transparant terhadap IP, maka router akan meneruskan

paket berdasarkan alamat IP dari data.

Gateway Menghubungkan jaringan pada layer diatas router dan bridge. Gateway

mendukung pemetaan alamat dari jaringan yang satu ke jaringan yang lain. 

Gateway merupakan pintu keluar suatu host menuju ke jaringan diluar.

1.2 Sejarah Internet

Jaringan mulai dibangun pada kisaran tahun 60an dan 70an, dimana mulai banyak penelitian

tentang paket-switching, collision-detection pada jaringan lokal, hirarki jaringan dan teknik

komunikasi lainnya.

Semakin banyak yang mengembangkan jaringan, tapi hal ini mengakibatkan semakin banyak

perbedaan dan membuat jaringan harus berdiri sendiri tidak bisa dihubungkan antar tipe

jaringan yang berbeda. Sehingga untuk menggabungkan jaringan dari group yang berbeda

tidak bisa terjadi. Terjadi banyak perbedaan dari interface, aplikasi dan protokol.

Situasi perbedaan ini mulai di teliti pada tahun 70an oleh group peneliti Amerika dari

Defence Advanced Research Project Agency (DARPA). Mereka meneliti tentang

internetworking, selain itu ada organisasi lain yang juga bergabung seperti ITU-T (dengan

nama CCITT) dan ISO. Tujuan dari penelitian tersebut membuat suatu protokol, sehingga

aplikasi yang berbeda dapat berjalan walaupun pada sistem yang berbeda.

Group resmi yang meneliti disebut ARPANET network research group, dimana telah

melakukan meeting pada oktober 1971. Kemudian DARPA melanjukan penelitiannya tentang

host-to-host protocol dengan menggunakan TCP/IP, sekitar tahun 1978. Implementasi awal

internet pada tahun 1980, dimana ARPANET menggunakan TCP/IP. Pada tahun 1983,

DARPA memutuskan agar semua komputer terkoneksi ke ARPANET menggunakan TCP/IP.

DARPA mengontak Bolt, Beranek, and Newman (BBN) untuk membangun TCP/IP untuk

Berkeley UNIX di University of California di Berkeley, untuk mendistribusikan kode sumber

bersama dengan sistem operasi Berkeley Software Development (BSD), pada tahun 1983

(4.2BSD). Mulai saat itu, TCP/IP menjadi terkenal di seluruh universitas dan badan penelitian

dan menjadi protokol standar untuk komunikasi. 

1.2.1 ARPANET 

Suatu badan penelitian yang dibentuk oleh DARPA, dan merupakan “grand-daddy of packet

switching”. ARPANET merupakan awal dari internet. ARPANET menggunakan komunikasi

11

56Kbps tetapi karena perkembangan akhirnya tidak mampu mengatasi trafik jaringan yang

berkembang tersebut.

1.2.2 NFSNET

NSFNET, National Science Foundation (NSF) Network. Terdiri dari 3 bagian

internetworking di Amerika, yaitu :

 Backbone, jaringan yang terbentuk dari jaringan tingkat menengah (mid-level) dan

jaringan supercomputer.

 Jaringan tingkat menengah (mid-level) terdiri dari regional, berbasis disiplin dan

jaringan konsorsium superkomputer.

 Jaringan kampus, akademik maupun komersial yang terhubung ke jaringan tingkat

menengah.

1.2.3 Penggunaan Internet secara komersial

Penggunaan internet berawal dari Acceptable Use Policy (AUP) tahun 1992, dimana

menyebutkan internet dapat digunakan untuk komersial. Internet Service Provider mulai

membangun bisnis diantaranya PSINet dan UUNET, kemudian menyusul CERFNet dan

membentuk Commercial Internet Exchange (CIX). Keberadaan internet makin berkembang

dan semakin banyak public exchange point (IXP), dapat dilihat di : http://www.ep.net.

1.2.4 Internet2

Perkembangan internet disusul dengan project internet2 yang merupakan Next Generation

Internet (NGI). Tujuan dari internet2 antara lain :

 Mendemostrasikan aplikasi baru yang dapat meningkatkan peneliti untuk melakukan

kolaborasi dalam penelitian

 Membangun advanced communication infrastructures

 Menyediakan middleware dan perangkat development

 Mendukung QoS untuk penelitian dan komuniti pendidikan

 Mempromosikan next generation dari teknologi komunikasi

 Mengkoordinasi standarisasi 

 Mengkapitalisasi sistem partner antara pemerintah dan sektor organisasi

 Melakukan perubahan jaringan dari internet ke internet2

 Mempelajari efek samping dari infrastruktur yang baru pada pendidikan tinggi dan

komunitas internet

Informasi tentang internet2 dapat dilihat di http://www.internet2.edu

1.2.5 Model Referensi dari Open System Interconnection (OSI)

OSI (Open System Interconnection) model (ISO 7498) mendifinisikan 7 layer model dari

komunikasi data. 

12

Gambar  1.5. Model Referensi OSI

Tiap layer memiliki fungsi yang saling terhubung dengan layer di atasnya. 

1.3 Standarisasi TCP/IP 

TCP/IP semakin popular diantara developer dan pengguna, karena itu perlu adanya

standarisasi. Standarisasi di kelola oleh Internet Architecture Board (IAB)

IAB mengacu pada Internet Engineering Task Force (IETF) untuk membuat standar baru.

Dimana standarisasi menggunakan RFC. Untuk Internet Standar Process, menggunakan RFC

2026 – The Internet Standard Process – Revision 3, dimana didalamnya berisi tentang

protokol, prosedur, dan konvensi yang digunakan dari oleh internet.

1.3.1 Request For Comment (RFC)

Internet Protocol suite masih dikembangkan dan perkembangannya menggunakan

mekanisme Request For Comment (RFC). Protokol baru yang dikembangkan oleh peneliti

akan diajukan dalam bentuk Internet Draft (ID). Kemudian akan di evaluasi oleh IAB.

Apabila disetujui maka akan lahir RFC dengan seri baru untuk aplikasi atau protokol

tersebut, sehingga developer dapat menggunakan standar tersebut.

1.3.2 Internet Standard

Proposal standar, draft standar, dan protokol standar merupakan bagian dari Internet

Standard Track. Setelah proposal diakui maka proposal tersebut akan memiliki nomer, yang

disebut standard number (STD). Contoh : Domain Name Systems (DNS) menggunakan STD

13 dan dijelaskan pada RFC 1034 dan 1035, sehingga dapat dituliskan “STD-

13/RFC1034/RFC1035”. Untuk info lengkapnya dapat diakses di http://www.ietf.org

1.4 Internet Masa Depan

Mencoba untuk memperkirakan penggunaan internet dimasa mendatang adalah tidak mudah.

Karena itu pada bagian ini akan diberikan contoh kecil penggunaan internet untuk masa

depan.

13

1.4.1 Aplikasi Multimedia

Penggunaan bandwidth semakin lama akan semakin efisien, banyak teknologi yang dapat

digunakan untuk mengatur penggunaan bandwidth salah satunya Dense Wave Division

Multiplexing (DWDM). 

Penggunaan bandwidth banyak digunakan pada aplikasi multimedia, antara lain Voice over

Internet Protocol (VoIP) dan masih banyak lagi lainnya, bahkan untuk video conference.

Sekarang untuk mendengarkan lagu dengan internet sudah dapat kita rasakan, dan

dikedepannya akan dimungkinkan semua perangkat terkoneksi melalui internet dan masih

banyak lagi lainnya. Atau mungkin anda sendiri akan diberi IP Address... ???

1.4.2 Penggunaan untuk komersial

Penggunaan teknologi Virtual Private Networking (VPN) semakin banyak digunakan oleh

perusahaan. VPN digunakan untuk mengamankan komunikasi yang digunakan oleh sebuah

perusahaan. Misal untuk Virtual meeting.

1.4.3 Wireless Internet

Penggunaan aplikasi tanpa kabel sangat meningkatkan mobilitas seseorang, sehingga

kebutuhan internet wireless akan semakin populer. Dengan adanya teknologi bluetooth, Wifi

IEEE802.11, Wi-MAX dan yang lainnya akan mendukung internet tanpa kabel.

14

2 Model Referensi OSI

OSI adalah referensi komunikasi dari Open System Interconnection. OSI model digunakan

sebagai titik referensi untuk membahas spesifikasi protokol.

2.1 Layer pada OSI

OSI model terdiri dari 7 layer. Dimana bagian atas dari layernya (layer 7,6,dan 5) difokuskan

untuk bentuk pelayanan dari suatu aplikasi. Sedangkan untuk layer bagian bawahnya (layer 4,

3, 2 dan 1) berorientasikan tentang aliran data dari ujung satu ke ujung yang lainnya. 

Tabel 2.1. Model Referensi OSI

Nama layer Fungsi Contoh

Aplikasi

(layer 7)

Aplikasi yang saling berkomunikasi antar

komputer. Aplikasi layer mengacu pada

pelayanan komunikasi pada suatu aplikasi.

Te l n e t , H T T P, F T P,

WWW Browser, NFS,

SMTP, SNMP

Presentasi

(Layer 6)

Pada layer bertujuan untuk mendefinisikan

format data, seperti ASCII text, binary dan

JPEG. 

JPEG, ASCII, TIFF, GIF,

MPEG, MIDI

Sesi

(Layer 5)

Sesi layer mendefinisikan bagaimana memulai,

mengontrol dan mengakhiri suatu percakapan

(biasa disebut session)

RPC, SQL, NFS, SCP

Transport

(Layer 4)

Pada layer 4 ini bisa dipi l ih apakah

menggunakan protokol yang mendukung error-

recovery atau tidak. Melakukan multiplexing

terhadap data yang datang, mengurutkan data

yang datang apabila datangnya tidak berurutan.

TCP, UDP, SPX

Network

(Layer 3)

Layer ini mendefinisikan pengiriman data dari

ujung ke ujung. Untuk melakukan pengiriman

pada layer ini juga melakukan pengalamatan.

Mendifinisikan pengiriman jalur (routing).

IP, IPX, Appletalk DDP

Data Link

(layer 2)

Layer ini mengatur pengiriman data dari

interface yang berbeda. Semisal pengiriman data

dari ethernet 802.3 menuju ke High-level Data

Link Control (HDLC), pengiriman data WAN.

IEEE 802.2/802.3, HDLC,

Frame relay, PPP, FDDI,

ATM

Physical

(Layer 1)

Layer ini mengatur tentang bentuk interface

yang berbeda-beda dari sebuah media transmisi.

Spesifikasi yang berbeda misal konektor, pin,

penggunaan pin, arus listrik yang lewat,

encoding, sumber cahaya dll

E I A / T I A - 2 3 2 , V 3 5 ,

EIA/TIA- 449, V.24,

RJ45, Ethernet, NRZI,

NRZ, B8ZS

2.2 Konsep dan Kegunaan Layer

Banyak kegunaan yang didapat dari pembagian fungsi menjadi yang lebih kecil atau yang

disebut layer. Kegunaan yang pasti adalah mengurangi kompleksitas, sehingga dapat

didefinisikan lebih detil.

Contoh kegunaannya antara lain:

15

 Manusia dapat membahas dan mempelajari tentang protokol secara detil

 Membuat perangkat menjadi bentuk modular, sehingga pengguna dapat

menggunakan hanya modul yang dibutuhkan

 Membuat lingkungan yang dapat saling terkoneksi

 Mengurangi kompleksitas pada pemrograman sehingga memudahkan produksi

 Tiap layer dapat diberikan pembuka dan penutup sesuai dengan layernya

 Untuk berkomunikasi dapat dengan segera menggunakan layer dibawahnya.

2.2.1 Layer Aplikasi

Pada layer ini berurusan dengan program komputer yang digunakan oleh user. Program

komputer yang berhubungan hanya program yang melakukan akses jaringan, tetapi bila yang

tidak berarti tidak berhubungan dengan OSI.

Contoh: Aplikasi word processing, aplikasi ini digunakan untuk pengolahan text sehingga

program ini tidak berhubungan dengan OSI. Tetapi bila program tersebut ditambahkan fungsi

jaringan misal pengiriman email, maka aplikasi layer baru berhubungan disini.

Sehingga bila digambar dapat digambar seperti Gambar   2 .6.

Gambar  2.6 Layer Aplikasi

2.2.2 Layer Presentasi

Pada layer ini bertugan untuk mengurusi format data yang dapat dipahami oleh berbagai

macam media. Selain itu layer ini juga dapat mengkonversi format data, sehingga layer

berikutnya dapat memafami format yang diperlukan untuk komunikasi.

Contoh format data yang didukung oleh layer presentasi antara lain : Text, Data, Graphic,

Visual Image, Sound, Video. Bisa digambarkan seperti pada Gambar   2 .7.

16

Gambar  2.7 Format data pada layer presentasi

Selain itu pada layer presentasi ini juga berfungsi sebagai enkripsi data.

2.2.3 Layer Sesi (Session)

Sesi layer mendefinisikan bagaimana memulai, mengontrol dan mengakhiri suatu percakapan

(biasa disebut session). Contoh layer session : NFS, SQL, RPC, ASP, SCP

Gambar  2.8 Mengkoordinasi berbagai aplikasi pada saat berinteraksi antar komputer

2.2.4 Layer Transport

Pada layer 4 ini bisa dipilih apakah menggunakan protokol yang mendukung error-recovery

atau tidak. Melakukan multiplexing terhadap data yang datang, mengurutkan data yang

datang apabila datangnya tidak berurutan.

Pada layer ini juga komunikasi dari ujung ke ujung (end-to-end) diatur dengan beberapa cara,

sehingga urusan data banyak dipengaruhi oleh layer 4 ini.

Gambar  2.9 Fungsi transport layer

Fungsi yang diberikan oleh layer transport :

 Melakukan segmentasi pada layer atasnya

 Melakukan koneksi end-to-end

 Mengirimkan segmen dari 1 host ke host yang lainnya

 Memastikan reliabilitas data

17

2.2.4.1 Melakukan segmentasi pada layer atasnya

Dengan menggunakan OSI model, berbagai macam jenis aplikasi yang berbeda dapat

dikirimkan pada jenis transport yang sama. Transport yang terkirim berupa segmen per

segmen. Sehingga data dikirim berdasarkan first-come first served.

Gambar  2.10 Segmentasi pada layer transport

2.2.4.2 Melakukan koneksi end-to-end

Konsepnya, sebuah perangkat untuk melakukan komunikasi dengan perangkat lainnya,

perangkat yang dituju harus menerima koneksi terlebih dahulu sebelum mengirimkan atau

menerima data.

Proses yang dilakukan sebelum pengiriman data, seperti pada Gambar   2 .11:

- Pengirim (sender) mengirimkan sinyal Synchronize terlebih dulu ke tujuan

- Penerima (receiver) mengirimkan balasan dengan sinyal Negotiate Connection

- Penerima mengirimkan Synchronize ulang, apa benar pengirim akan mengirimkan

data

- Pengirim membalas dengan sinyal Acknowledge dimana artinya sudah siap untuk

mengirimkan data

- Connection establish

- Kemudian segmen dikirim

Gambar  2.11 Proses pembentukan koneksi

18

2.2.4.3 Mengirimkan segmen dari 1 host ke host yang lainnya

Proses pengiriman yang terjadi pada layer transport berupa segmen, sedangkan pada layer

bawahnya berupa paket dan pada layer 2 berupa frame dan dirubah menjadi pengiriman bit

pada layer 1. Hal tersebut dapat dilihat pada Gambar   2 .12

Gambar  2.12 Pengiriman segmen, paket, frame, dan bit

2.2.4.4 Memastikan reliabilitas data

Pada waktu pengiriman data sedang berjalan, kepadatan jalur bisa terjadi (congestion).

Alasan terjadinya congestion antara lain: komputer berkecepatan tinggi mengirimkan data

lebih cepat dari pada jaringannya, apabila beberapa komputer mengirimkan data ke tujuan

yang sama secara simultan.

Untuk mengatasi hal tersebut setiap perangkat dilengkapi dengan yang namanya kontrol

aliran (flow control). Dimana apabila ada pengirim yang mengirimkan data terlalu banyak,

maka dari pihak penerima akan mengirmkan pesan ke pengirim bahwa jangan mengirim data

lagi, karena data yang sebelumnya sedang di proses. Dan apabila telah selesai diproses, si

penerima akan mengirimkan pesan ke pengirim untuk melanjutkan pengiriman data. Ilustrasi

flow control dapat dilihat pada Gambar   2 .13.

Gambar  2.13 Flow Control

19

Dinamakan data yang reliabel artinya paket data datang sesuai dengan urutan pada saat

dikirimkan. Protokol akan gagal apabila terjadi paket yang hilang, rusak, terjadi duplikasi,

atau menerima paket data dengan urutan yang berbeda. Untuk memastikan data yang

terkirim, si penerima harus mengirimkan acknowledge untuk setiap data yang diterima pada

segmen.

Contoh: Pengirim mengirimkan data dengan format window segmen sebesar 1, maka

penerima akan mengirimkan acknowledge no 2. Apabila pengirm mengirimkan data dengan

format window segmen sebesar 3, maka penerima akan mengirimkan acknowledge no 4

apabila penerimaan data benar. Ilustrasi dapat dilihar di Gambar   2 .14.

Gambar  2.14 Sistem windowing

Teknik konfirmasi data dengan acknowledge bekerja mengirimkan informasi data mana yang

terjadi kesalahan. Contoh pada Gambar   2 .15 apabila data nomer 5 yang rusak maka si

penerima akan memberikan acknowledge ke pengirim no 5, dan si pengirim akan

mengirmkan ulang data segmen no 5.

Gambar  2.15 Acknowledge

20

2.2.5 Layer Network

Fungsi utama dari layer network adalah pengalamatan dan routing. Pengalamatan pada layer

network merupakan pengalamatan secara logical, Contoh penggunaan alamat IP seperti pada

Gambar   2 .16.

Gambar  2.16 Pengalamat logic dan fisik

Routing digunakan untuk pengarah jalur paket data yang akan dikirim. Dimana routing ada 2 

macam yaitu Routed dan Routing Protocol.

Gambar  2.17 Untuk menuju ke tujuan lain menggunakan Routing

2.2.6 Layer Data Link

Fungsi yang diberikan pada layer data link antara lain :

- Arbitration, pemilihan media fisik 

- Addressing, pengalamatan fisik

- Error detection, menentukan apakah data telah berhasil terkirim

- Identify Data Encapsulation, menentukan pola header pada suatu data

2.2.6.1 Arbitrasi

Penentuan waktu pengiriman data yang tepat apabila suatu media sudah terpakai, hal ini perlu

melakukan suatu deteksi sinyal pembawa. Pada Ethernet menggunakan metode Carrier

Sense Multiple Access / Collision Detection (CSMA/CD). 

21

Gambar  2.18 CSMA/CD

Pada jaringan yang dapat melakukan akses secara bersamaan simultan. Maka bila Host A

mengirimkan data ke Host D, maka Host B dan C akan melakukan deteksi jalur, dan apabila

jalur sedang dipakai maka Host B dan C akan menunggu terlebih dahulu. Hal ini dapat

mencegah terjadinya collision. Ilustrasi seperti pada Gambar   2 .19.

Gambar  2.19 Collision

2.2.6.2 Addressing

Pengalamatan yang dilakukan pada layer data link bersifat fisik, yaitu menggunakan Media

Access Control (MAC). MAC ditanamkan pada interface suatu perangkat jaringan.MAC

berukuran 48bit dengan format 12 heksadesimal.

Gambar  2.20 Media Access Control (MAC)

22

2.2.6.3 Error Detection

Teknik yang digunakan adalah Frame Check Sequence (FCS) dan Cyclic Redundancy Check

(CRC).

2.2.6.4 Identify Data Encapsulation

Mengidentifikasikan format data yang lewat apakah termasuk ehternet, token ring, frame-

relay dan sebagainya.

Tabel 2.2 Tipe Protokol Encoding

Protokol Data Link Bagian (Field) Header Ukuran

802.3 Ethernet 

802.5 Token Ring

DSAP Header 802.2 1 byte

802.3 Ethernet

802.5 Token Ring

SSAP Header 802.2 1 byte

802.3 Ethernet

802.5 Token Ring

Protocol Type Header SNAP 2 byte

Ethernet (DIX) Ethertype Header Ethernet 2 byte

HDLC Cisco proprietary Extra Cisco Header 2 byte

Frame Relay RFC 2427 NLPID RFC1490 1 byte

Frame Relay RFC 2427 L2 / L3 protocol ID Q.933 2 byte / ID

Frame Relay RFC 2427 SNAP Protocol Type Header SNAP 2 bye

2.3 Interaksi antar Layer pada OSI

Proses bagaimana komputer berinteraksi dengan menggunakan layer pada OSI, mempunyai

dua fungsi umum, antara lain :

 Tiap layer memberikan pelayanan pada layer di atasnya sesuai dengan spesifikasi

protokolnya

 Tiap layer mengirimkan informasi komunikasi melalui software dan hardware yang

sama antar komputer.

Komunikasi antar komputer pada OSI layer dapat digambarkan seperti Gambar   2 .21.

Gambar  2.21 Komunikasi antar Komputer pada OSI Layer

23

Sebuah data dibuat oleh aplikasi pada host A, contoh seseorang menuliskan email. Pada tiap

layer ditambahkan header dan dilanjutkan ke layer berikutnya (langkah 1 Gambar   2 .21).

Contoh : pada layer transport menyalurkan data dan header yang ditambahkannya ke layer

network, sedangkan pada layer network ditambahkan header alamat tujuannya supaya data

bisa sampai pada komputer tujuannya.

Setelah aplikasi memuat data, software dan hardware pada komputer menambahkan header

dan trailernya. Pada layer fisik dapat menggunakan medianya untuk mengirimkan sinyal

untuk transmisi (langkah 2 Gambar   2 .21).

Disisi penerima (langkah 3 Gambar   2 .21), Host B mulai mengatur interaksi antar layer pada

host B. Panah keatas (langkah 4 Gambar   2 .21) menunjukkan proses pemecahan header dan

trailer sehingga pada akhirnya data dapat diterima oleh pengguna di host B.

Apabila komunikasi yang terjadi antar 2 komputer masih harus melewati suatu media

tertentu, semisal router. Maka bentuk dari interaksi OSI layer dapat dilihat seperti Gambar   2

.22.

Gambar  2.22 Interaksi OSI Layer pada komunikasi melalui sebuah perantara, misal Router

2.4 Data Enkapsulasi

Konsep penempatan data dibalik suatu header dan trailer untuk tiap layer disebut enkapsulasi

(encapsulation). Pada Gambar   2 .21 terlihat pada tiap layer diberikan suatu header

tambahan, kemudian ditambahkan lagi header pada layer berikutnya, sedangkan pada layer 2

selain ditambahkan header juga ditambahkan trailer. Pada layer 1 tidak menggunakan header

dan trailer. 

Pada pemrosesan layer 5, 6 dan 7 terkadang tidak diperlukan adanya header. Ini dikarenakan

tidak ada informasi baru yang perlu diproses. Sehingga untuk layer tersebut bisa dianggap 1

proses.

Sehingga langkah-langkah untuk melakukan data enkapsulasi dapat dijabarkan sebagai

berikut :

Langkah 1 Membuat data – artinya sebuah aplikasi memiliki data untuk dikirim

Langkah 2 Paketkan data untuk di transportasikan – artinya pada layer transport

ditambahkan header dan masukkan data dibalik header. Pada proses ini

24

terbentuk L4PDU.

Langkah 3 Tambahkan alamat tujuan layer network pada data – layer network

membuat header network, dimana didalamnya terdapat juga alamat layer

network, dan tempatkan L4PDU dibaliknya. Disini terbentuk L3PDU.

Langkah 4 Tambahkan alamat tujuan layer data link pada data – layer data link

membuat header dan menempatkan L3PDU dibaliknya, kemudian

menambahkan trailer setelahnya. Disini terbentu L2PDU.

Langkah 5 Transmit dalam bentu bit – pada layer fisikal, lakukan encoding pada sinyal

kemudian lakukan pengiriman frame.

Sehingga pemrosesannya akan mirip dengan model TCP/IP. Pada tiap layer terdapat LxPDU

(Layer N Protocol Data Unit), dimana merupakan bentuk dari byte pada header-trailer pada

data. Pada tiap-tiap layer juga terbentuk bentukan baru, pada layer 2 PDU termasuk header

dan trailer disebut bentukan frame. Pada layer 3 disebut paket (packet) atau terkadang

datagram. Sedangkan pada layer 4 disebut segmen (segment). Sehingga dapat digambarkan

pada Gambar   2 .23.

Gambar  2.23 Frame, Paket dan Segmen

Sehingga bila pada contoh pengiriman email proses enkapsulasi yang terjadi dapat 

digambarkan pada Gambar   2 .24.

Gambar  2.24 Proses enkapsulasi pada pengiriman E-Mail

25

2.5 Model referensi OSI dan TCP/IP

Apabila dibandingkan antara model OSI dan model TCP/IP dapat digambarkan pada Gambar 

 2 .25.

Gambar  2.25 Perbandingan model OSI dan TCP/IP

26

3 Perangkat Jaringan

Bab ini berisikan tentang berbagai macam perangkat jaringan yang dapat dilalui oleh

protokol TCP/IP, begitu juga dengan media transmisi yang digunakan hingga perangkat

penyalurnya.

Gambar  3.26 Internetworking (WAN, MAN, LAN)

27

Gambar  3.27 Perbandingan Jaringan Komputer

3.1 Network Interface

3.1.1 Local Area Network (LAN)

LAN adalah jaringan komputer yang mencover area lokal, seperti rumah, kantor atau group dari bangunan.

LAN sekarang lebih banyak menggunakan teknologi berdasar IEEE 802.3 Ethernet switch, atau dengan

Wi-Fi. Kebanyakan berjalan pada kecepatan 10, 100, atau 1000 Mbps.

Perbedaan yang menyolok antara Local Area Network (LAN) dengan Wide Area Network (WAN) adalah

menggunakan data lebih banyak, hanya untuk daerah yang kecil, dan tidak memerlukan sewa jaringan. 

Walaupun sekarang ethernet switch yang paling banyak digunakan pada layer fisik dengan menggunakan

TCP/IP sebagai protokol, setidaknya masih banyak perangkat lainnya yang dapat digunakan untuk

membangun LAN. LAN dapat dihubungkan dengan LAN yang lain menggunakan router dan leased line

untuk membentuk WAN. Selain itu dapat terkoneksi ke internet dan bisa terhubung dengan LAN yang lain

dengan menggunakan tunnel dan teknologi VPN.

Perangkat yang banyak digunakan LAN :

28

Gambar  3.28 Perangkat LAN

Teknologi yang digunakan pada LAN :

Gambar  3.29 Teknologi LAN

3.1.1.1 Ethernet dan IEEE 802.x Local Area Network

Perangkat jaringan yang paling banyak digunakan dengan standarisasi IEEE 802.3, format

data dapat dilihat pada Gambar   3 .30.

Gambar  3.30 Format frame untuk Ethernet dan IEEE 802.3

Pada layer data link digunakan IEEE 802.2 yaitu Logical Link Controler (LLC) dimana 

digunakan pada Media Access Control (MAC).

Beberapa teknologi Ethernet antara lain seperti pada Gambar   3 .31.

29

Gambar  3.31 Ethernet IEEE 802.3

Untuk teknologi Ethernet digunakan format :

[ x ][ y ][ z ]

Contoh: 10BaseT, dimana artinya

10, adalah kecepatan dengan satuan Mbps. Selain 10 ada juga 100, 1000

Base, adalah teknologi yang digunakan berupa Baseband. Selain itu ada juga Broadband

T, adalah Twisted Pair, dimana media yang digunakan adalah kabel berpilin (twisted pair)

Ethernet

Coax

10Base-5 

Disebut juga sebagai teknologi thick ethernet. Dimana perangkat yang

digunakan seperti pada Gambar   3 .32. Teknologi ini digunakan pada

jaringan Token Ring (IEEE 802.5), dimana jaringan yang terbentuk seperti

lingkaran.

Gambar  3.32 Ethernet 10Base5

Keterangan :

- tap : tidak perlu memotong kabel

- transceiver : digunakan sebagai pengirim / penerima, collision 

detection, dan isolasi electric

30

- AUI : Attachment User Interface

- Digunakan untuk jaringan backbone

- Jarak maksimum untuk tiap segmen = 500m

- Jumlah maksimum host per segmen = 100

- Jarak minimum antar 2 station = 2.5m

- Jarak maksimum antar 2 station = 2.8km

10Base-2

Disebut juga sebagai teknologi thin ethernet. Dimana perangkat yang

digunakan seperti pada Gambar   3 .33.

Gambar  3.33 Ethernet 10Base2

Keterangan :

- Menggunakan BNC konektor

- Digunakan pada LAN perkantoran

- Jarak maksimum segmen = 185m

- Jumlah maksimum station per segmen = 30

- Jarak minimum antar 2 station = 0.5m

- Jarak maksimum antar 2 station = 925m

Tembaga (cooper)

10Base-T 

Teknologi jaringan untuk LAN dimana menggunakan hub sebagai repeater.

Ilustrasi Ethernet 10BaseT seperti pada Gambar   3 .34.

Gambar  3.34 Ethernet 10BaseT

Apabila menggunakan T berarti menggunakan media Twisted Pair, dan bila

menggunakan F berarti menggunakan media Fiber Optic. Untuk perangkat

disisi pengguna disebut juga Network Interface Card (NIC).

31

Fiber

10Base-F

Teknologi yang menggunakan fiber optic dan banyak digunakan untuk

menghubungkan antar gedung. Jarak maksimum segmen yang diperbolehkan

adalah 2000m.

Fast Ethernet

Copper

100Base-T2

Data dikirimkan melalui 2 pasang kabel tembaga

100Base-T4

Jaringan ethernet dengan kecepatan hingga 100 (fast ethernet). Jarak

maksimum per segmen adalah 100m dengan menggunakan kabel twisted pair

kategori 3.

100Base-Tx

Jaringan ehternet berkecepatan tinggi 100Mbps. Jarak maksimum persegmen

adalah 100m full duplex. Jaringan ini menggunakan kabel twisted pair.

Fiber

100Base-FX

Jaringan ehternet berkecepatan tinggi 100Mbps. Jarak maksimum per segmen

adalah 2000m full duplex dengan menggunakan media 2 kabel fiber optik.

100Base-SX

Jaringan ethernet menggunakan 2 kabel fiber optik untuk transmit dan receive dengan 

jarak maksimum 300m

100Base-BX

Jaringan ethernet menggunakan 1 kabel fiber optik dengan tipe singlemode.

Gigabit Ethernet

Fiber

1000Base-SX

Jaringan ethernet dengan kecepatan 1000Mbps. Dengan menggunakan media

fiber optik dengan jarak maksimum per segmen 550m. Fiber optik yang

digunakan adalah tipe multimode (50, 62.5 mikron)

32

1000Base-LX

Jaringan ethernet dengan kecepatan 1000Mbps. Dengan menggunakan media

fiber optik dengan jarak maksimum per segmen hingga 5000m. Fiber optik

yang digunakan adalah tipe singlemode (10 mikron) atau multimode (50, 62.5

mikron)

1000Base-CX

Jaringan ethernet dengan kecepatan 1000Mbps. Dengan menggunakan media

kabel Twisted Pair yaitu 2 pasang STP. Jarak maksimum per segmen adalah

25m.

Cooper

1000Base-TX

Jaringan ethernet dengan kecepatan 1000Mbps. Dengan menggunakan media

kabel Twisted Pair yaitu 4 pasang UTP. Jarak maksimum per segmen adalah

100m.

10Gigabit Ethernet

Fiber

LAN Phy

10GBase-SR

Jaringan 10Gigabit untuk jarak pendek (short-range), digunakan untuk jarak 26m hingga

82m. Bisa mencapai 300m apabila menggunakan 50um 2000MHz-km multimode FO

10GBase-LRM

Mencapai jarak 220m dengan menggunakan FDDI-grade 62.5 µm multimode FO.

10GBase-LR

Mencapai jarak 10km dengan menggunakan 1310 nm single-mode FO

10GBase-ER

Mencapai jarak 40km dengan menggunakan 1550 nm single-mode FO

10GBase-LX4

Jaringan 10Gigabit dengan menggunakan teknologi wavelength division  multiplexing

hingga mencapai jarak 240m – 300m. Bisa mencapai 10km dengan menggunakan FO

single-mode dengan ukuran 1310nm.

WAN Phy

10GBase-SW, 10GBase-LW, dan 10GBase-EW digunakan untuk jaringan WAN, digunakan

bersama dengan OC-192/STM-64 SDH/SONET.

33

Cooper

10GBase-CX4

Menggunakan 4 jalur kabel tembaga, hingga mencapai 15m.

10GBase-T

Menggunakan kabel UTP / STP dengan category 6 dan 7.

Hub, Switch dan Router

Perangkat yang digunakan untuk teknologi ini antara lain:

- Hub, Repeater: perangkat ini bekerja pada layer 1

- Switch, bridge: perangkat ini bekerja pada layer 2

- Router: perangkat ini bekerja pada layer 3

Sehingga menurut OSI layer perangkat yang dapat digunakan seperti pada Gambar   3 .35.

Gambar  3.35 Perangkat Jaringan sesuai dengan Layer

Perbedaan cara kerja Hub dan Switch dapat dilihat pada Gambar   3 .36 dan Gambar   3 .37.

Gambar  3.36 Cara kerja HUB

34

Gambar  3.37 Cara kerja Switch

3.1.1.2 Token Ring

Token Ring dikembangkan oleh IBM pada tahun 1980 dan menjadi standar IEEE 802.5. Menjadi

berkembang setelah melebihi kemampuan dari 10Base-T. 

Token ring merupakan jaringan bertopologi star, dengan Multistation Access Unit (MAU) sebagai pusat

jaringan. MAU berfungsi seperti HUB hanya saja data bergerak dengan 1 arah. Data bergerak seperti

lingkaran pada MAU.

Gambar  3.38 Token Ring

Untuk mengakses jaringan diperlukan yang namanya token. Token dilempar ke jaringan dan akan

menerima data dengan dikirimkan kembali ke token si pengirim.

Dengan adanya teknologi switch pada Ethernet, token ring menjadi tidak banyak digunakan.

3.1.1.3 Fiber Distribution Data Interface (FDDI)

FDDI merupakan standar untuk jaringan fiber optik dengan kecepatan 100Mbps. Pada OSI

Model FDDI diilustrasikan seperti pada Gambar   3 .39. RFC yang menerangkan FDDI

adalah RFC 1188.

FDDI bekerja dengan menggunakan 2 jalur berbentuk RING, dimana apabila terjadi

kerusakan pada suatu station maka pada station sebelumnya akan membuat loopback

sehingga jaringan tidak terputus.

35

Gambar  3.39 Cara kerja FDDI

3.1.2 Wide Area Network (WAN)

WAN adalah jaringan komputer dimana memiliki cakupan daerah yang lebih luas. Contoh dari WAN adalah

internet.

Jenis koneksi WAN dapat dibedakan menjadi 

Akronim

WAN

Nama WAN Bandwidth

Maksimum

Penggunaan Tipe Pelayanan

(service)

POTS Plain Old Telephone

Service

4 KHz analog Standar Circuit Switching

ISDN Integrated Services

Digital Network

128 Kbps Data dan voice secara

bersamaan

X.25 X.25 R a d i o P a k e t ,

workshore

Packet-Swithing

Frame Relay Frame Relay 1.544Mbps Flexible workshore

ATM Asynchronous

Transfer Mode

622Mbps High Power network Cell-Swithing

SMDS Switched

Multimegabit Data

Service

1 . 5 4 4 &

44.736Mbps

MAN, variant dari

ATM

T1, T3, E1,

E3

T1, T3, E1, E3 1.544 & 44.736

Mbps

Telecomunication Dedicated Digital

xDSL Digital Subcriber

Line

384 kbps Te k n o l o g i b a r u

melalui line telepon

Dial-up

Modem

Modem 56kbps Teknologi lama yang

menggunakan jalur

telepon

Lainnya

Cable Modem Cable Modem 10Mbps TV Kabel

Terresterial

Wireless

Wireless <5Mbps Microwave & link

dengan laser

Satellite

Wireless

Wireless <5Mbps Microwave & link

dengan laser

SONET Synchronous Optical

Network

9.992Mbps J a r i n g a n c e p a t

menggunakan FO

36

Perangkat yang digunakan untuk jaringan WAN

Gambar  3.40 Perangkat WAN

Cara menghubungkan perangkat WAN ada 2 macam yaitu, menghubungkan langsung secara point-to-point 

atau melalui perangkat swithing lainnya.

Gambar  3.41 Cara menghubungkan perangkat WAN

Sedangkan pada bentuk fisiknya perangkat WAN akan disambungkan seperti berikut

Gambar  3.42 Bentuk sambungan fisik perangkat WAN

Contoh perangkat WAN :

3.1.2.1 Serial Line IP (SLIP)

SLIP merupakan standar yang digunakan pada jaringan point-to-point dengan koneksi serial

dimana berjalan protokol TCP/IP, diterangkan pada RFC 1055. Protokol ini telah diganti oleh

Point-to-Point Protocol (PPP). Contoh koneksi yang menggunakan SLIP adalah hubungan

antar PC dengan menggunakan null-modem

3.1.2.2 Point-to-Point Protocol (PPP)

PPP diterangkan di standard protocol nomer 51, dan RFC 1661 dan RFC 1662. PPP memiliki

3 komponen inti, yaitu :

37

1. Menggunakan enkapsulasi datagram melalui link serial

2. Link Control Protocol digunakan untuk menyambungkan, menkonfigurasi, dan

testing koneksi data link

3. Network Control Protocol digunakan untuk menghubungkan protokol yang berbeda.

Phase yang dilakukan untuk membuat koneksi dengan PPP yaitu:

1. Pembentukan link dan negosiasi konfigurasi

2. Mengukur kualiti dari link

3. Authentikasi 

4. Negosiasi configurasi protokol layer Network 

5. Pemutusan link

Untuk media yang lainnya PPP menggunakan enkapsulasi melalui PPP.

Perangkat yang biasa digunakan pada komunikasi PPP antara lain modem.

Gambar  3.43 Modem

Komunikasi yang dilakukan dengan modem dapat dilakukan seperti Gambar   3 .44.

Gambar  3.44 Koneksi menggunakan Modem

3.1.2.3 Integrated Services Digital Network (ISDN)

Komunikasi ini menggunakan enkapsulasi PPP melalui ISDN, dimana dibahas pada

RFC1618. 

ISDN Basic Rate Interface (BRI) mendukung 2 B-Channel dengan kapasitas 64kbps dan

16kbps D-Channel digunakan untuk kontrol informasi. B-Channel hanya bisa digunakan

untuk voice saja atau data saja.

ISDN Primary Rate Interface (PRI) mendukung beberapa B-Channel (biasanya 30) dan

64kbps D-Channel. 

Perangkat ISDN menggunakan tipe perangkat DCE/DTE.

3.1.2.4 X.25

Enkapsulasi IP melalui X.25 didokumentasikan di RFC1356. X.25 merupakan interface 

penghubung antara host dengan packet switching, dan banyak digunakan pada ISDN. 

38

Layer pada X.25: 

- Physical

o Merupakan interface antar station dengan node

o DTE pada perangkat user

o DCE pada node

o Menggunakan X.21

o Merupakan sequence dari frame

- Link

o Link Access Protocol Balance (LAPB), merupakan bagian dari HDLC

- Packet

o Merupakan eksternal virtual circuit

o Merupakan logical circuit antar subcriber

Penggunaan X.25 dapat dilihat pada Gambar   3 .45.

Gambar  3.45 Penggunaan X.25

3.1.2.5 Frame Relay

Frame Relay merupakan pengembangan dari X.25.

Karakteristik frame relay :

- Call Control dilakukan pada koneksi logical.

- Multiplexing dan switching dilakukan di layer 2

- Tidak ada flow control dan error control pada setiap hop

- Flow control dan error control dilakukan di layer atasnya

- Menggunakan single data frame.

3.1.2.6 PPP over SONET dan SDH Circuit

Synchronous Optical Network disingkat SONET, Synchronous Digital Hierarchy disingkat

SDH link, koneksi PPP over SONET atau SDH didokumentasikan di RFC1619.

Kecepatan dasar dari PPP over SONET/SDH adalah STS-3c/STM-1 pada kecepatan 155.52

Mbps. 

39

3.1.2.7 Asynchronous Transfer Mode (ATM)

ATM mengirimkan data secara potongan diskrit. Memiliki koneksi multi logical melalui

koneksi fisik tunggal. Paket ATM yang terkirim pada koneksi logic disebut cell. ATM mampu

meminimalis error dan flow control. ATM memiliki data rate 25.6Mbps sampe 622.08Mbps.

3.2 Media Transmisi

3.2.1 Media Terarah (Guided Transmission Data)

Suatu media yang digunakan untuk mengirimkan data, dimana arah ujung yang satu dengan

ujung yang lainnya sudah jelas, contoh : kabel.

3.2.1.1 Coaxial

Kabel data yang menggunakan material tembaga dimana terdapat 2 bagian yaitu : 

- Kabel inti ditengah

- Kabel serabut disisi samping dengan dipisahkan oleh suatu isolator

Gambar  3.46 Kabel Coaxial

Kabel ini menggunakan konektor Bayonet Nut Connector (BNC)

3.2.1.2 Twisted Pair

Kabel berpilin (Twisted Pair), menggunakan kabel berpasangan dimana tujuannya untuk

menghilangkan efek crosstalk. Banyak digunakan untuk jaringan LAN, dikarenakan mampu

mengirimkan bandwidth dengan jumlah yang besar.

Gambar  3.47 Twisted Pair

Kabel ini menggunakan konektor seri Registered Jack (RJ), dan tergantung dari jenis

kategorinya. Untuk kategori 2 menggunakan RJ11 sedangkan untuk kategori 5 keatas

menggunakan RJ45.

Tabel 3.3 Daftar Kategori Kabel Berpilin

Kategori (Category) Data rate maksimum Penggunaan

CAT 1 1 Mbps (1MHz) Analog voice, ISDN

CAT 2 4 Mbps Token Ring

40

CAT 3 16 Mbps Voice dan data 10BaseT

CAT 4 20 Mbps 16 Mbps Token Ring

CAT 5 100Mbps

1000Mbps (4 pasang)

ATM

CAT 5E 1000Mbps Ethernet

CAT 6 Mencapai 400MHz Superfast broadband

CAT 6E Mencapai 500MHz 10GBaseT

CAT 7 Mencapai 1.2GHz Full Motion Video Teleradiology

Jenis kabel berpilin menurut pelindungnya dibagi menjadi :

- Unshielded Twisted Pair (UTP)

Gambar  3.48 UTP

- Shielded Twisted Pair (STP)

Gambar  3.49 STP

- Screened Shielded Twisted Pair (S/STP)

Gambar  3.50 S/STP

- Screened Unshielded Twisted Pair (S/UTP) / Foiled Twisted Pair (FTP)

41

Gambar  3.51 S/UTP

Untuk pemasangan kabelnya mengikuti aturan TIA/EIA-586-A/B

Gambar  3.52 TIA/EIA-586-B

Gambar  3.53 TIA/EIA-586-A

Apabila kedua ujung menggunakan aturan yang sama, kabel tersebut disebut Straight-

Through, sedangkan bila berbeda disebut Cross-Over.

3.2.1.3 Fiber Optic

Jenis kabel yang satu ini tidak menggunakan tembaga (cooper), melainkan serat optik.

Dimana sinyal yang dialirkan berupa berkas cahaya. Mampu mengirimkan bandwidth lebih

banyak. Banyak digunakan untuk komunikasi antar Backbone, LAN dengan kecepatan tinggi.

Gambar  3.54 (a) Tampak samping, (b) FO dengan 3 core

42

Berdasarkan jumlah sumber cahaya yang masuk pada core FO, kabel FO dibagi menjadi 2 

yaitu:

- Multimode, jumlah sumber lebih dari 1. Menggunakan diameter core dengan ukuran 

50 micron – 100 micron

- Singlemode, jumlah sumber 1. Menggunakan diameter core dengan ukuran 2 – 8 

micron

Tabel 3.4 Tipe Konektor FO

Connector Insertion Loss Repeatability Tipe Fiber Kegunaan

FC

0.50-1.00 dB 0.20 dB SM, MM Datacom,

Telecommunicati

ons

FDDI

0.20-0.70 dB 0.20 dB SM, MM Fiber Optic

Network

LC

0.15 db (SM)

0.10 dB (MM)

0.2 dB SM, MM High Density

Interconnection

MT Array

0.30-1.00 dB 0.25 dB SM, MM High Density

Interconnection

SC

0.20-0.45 dB 0.10 dB SM, MM Datacom

SC Duplex

0.20-0.45 dB 0.10 dB SM, MM Datacom

ST

Typ. 0.40 dB (SM)

Typ. 0.50 dB (MM)

Typ. 0.40 dB (SM)

Typ. 0.20 dB (MM)

SM, MM Inter-/Intra-

Building,

Security, Navy

3.2.2 Media Tidak Terarah (Un-Guided Transmission Data)

Suatu media yang digunakan untuk mengirimkan data, dimana arah ujung yang satu dengan

ujung yang lainnya tersebar, contoh : nirkabel (wireless).

Komunikasi ini mengirimkan sinyal ke udara berdasarkan spektrum elektromagnetik

43

Gambar  3.55 Spektrum Elektromagnetik

3.2.2.1 Transmisi Radio

Perkembangan teknologi komunikasi radio sangat pesat, penggunaan wireless-LAN sudah

semakin populer. Untuk mengirimkan data menggunakan komunikasi radio ada beberapa cara

yaitu :

a. Memancarkan langsung, sesuai dengan permukaan bumi

b. Dipantulkan melalui lapisan atmosfir

Gambar  3.56 Komunikasi radio

Komunikasi radio ini menggunakan frekuensi khusus supaya tidak mengakibatkan

interference dengan penggunaan frekuensi lainnya, frekuensi yang boleh digunakan disebut

ISM band. ISM singkatan dari Industrial, Scientific and Medical. Frekuensi yang bisa

digunakan antara lain :

- 900 MHz

- 2.4 GHz

- 5.8 GHz

Gambar  3.57 ISM Band

Contoh penggunaan perangkat Wireless-LAN seperti pada Gambar   3 .58.

44

Gambar  3.58 Perangkat Wireless-LAN

3.2.2.2 Komunikasi Satelit

Komunikasi ini digunakan untuk komunikasi jarak jauh atau antar benua. Dimana untuk

menghubungkannya diperlukan teknologi satelit. Menurut jaraknya satelit bisa dikategorikan

menjadi :

- Geostationary

- Medium-Earth Orbit

- Low-Earth Orbit

Gambar  3.59 Komunikasi Satelit

45

Komunikasi satelit menggunakan frekuensi / band. 

Tabel 3.5 Frekuensi Kerja Satelit

Band Downlink Uplink Bandwidth Permasalahan

L 1.5 GHz 1.6GHz 15 MHz Bandwidth rendah, saluran penuh

S 1.9 GHz 2.2 GHz 70 MHz Bnadwidth rendah, saluran penuh

C 4.0 GHz 6 GHz 500 MHz Interferensi Teresterial

Ku 11 GHz 14 GHz 500 MHz Hujan

Ka 20 GHz 30 GHz 3500 MHz Hujan, harga perangkat

Untuk menghubungi site yang lain, bisa dilakukan dengan Very Small Aperture Terminal

(VSAT). VSAT adalah stasiun bumi 2 arah dengan antena parabola dengan diameter sekitar 3

– 10 meter. 

Gambar  3.60 Komunikasi satelit dengan VSAT

46

4 Internet Protocol

IP adalah standard protokol dengan nomer STD 5. Standar ini juga termasuk untuk ICMP,

dan IGMP. Spesifikasi untuk IP dapat dilihat di RFC 791, 950, 919, dan 992 dengan update

pada RFC 2474. IP juga termasuk dalam protokol internetworking.

4.1 Pengalamatan IP

Alamat IP merupakan representasi dari 32 bit bilangan unsigned biner. Ditampilkan dalam

bentuk desimal dengan titik. Contoh 10.252.102.23 merupakan contoh valid dari IP. 

4.1.1 Alamat IP (IP Address)

Pengalamatan IP dapat di lihat di RFC 1166 – Internet Number. Untuk mengidentifikasi suatu

host pada internet, maka tiap host diberi IP address, atau internet address. Apabila host

tersebut tersambung dengan lebih dari 1 jaringan maka disebut multi-homed dimana memiliki

1 IP address untuk masing-masing interface. IP Address terdiri dari :

IP Address = <nomer network><nomer host>

Nomer network diatur oleh suatu badan yaitu Regional Internet Registries (RIR), yaitu :

 American Registry for Internet Number (ARIN), bertanggung jawab untuk daerah

Amerika Utara, Amerika Selatan, Karibia, dan bagian sahara dari Afrika

 Reseaux IP Europeens (RIPE), bertanggung jawab untuk daerah Eropa, Timur Tengah

dan bagian Afrika

 Asia Pasific Network Information Center (APNIC), bertanggung jawab untuk daerah

Asia Pasific

IP address merupakan 32 bit bilangan biner dimana bisa dituliskan dengan bilangan desimal

dengan dibagi menjadi 4 kolom dan dipisahkan dengan titik. 

Bilangan biner dari IP address 128.2.7.9 adalah :

10000000 00000010 00000111 00001001

Penggunaan IP address adalah unik, artinya tidak diperbolehkan menggunakan IP address

yang sama dalam satu jaringan.

4.1.2 Pembagian Kelas Alamat IP (Class-based IP address)

Bit pertama dari alamat IP memberikan spesifikasi terhadap sisa alamat dari IP. Selain itu

juga dapat memisahkan suatu alamat IP dari jaringan. Network. Alamat Network (network

address) biasa disebut juga sebagai netID, sedangkan untuk alamat host (host address) biasa

disebut juga sebagai hostID.

47

Ada 5 kelas pembagian IP address yaitu :

Gambar  4.61 Pembagian Kelas pada IP

Dimana :

 Kelas A : Menggunakan 7 bit alamat network dan 24 bit untuk alamat host. Dengan

ini memungkinkan adanya 27-2 (126) jaringan dengan 224-2 (16777214) host, atau

lebih dari 2 juta alamat.

 Kelas B : Menggunakan 14 bit alamat network dan 16 bit untuk alamat host. Dengan

ini memungkinkan adanya 214-2 (16382) jaringan dengan 216-2 (65534) host, atau

sekitar 1 juga alamat.

 Kelas C : Menggunakan 21 bit alamat network dan 8 bit untuk alamat host. Dengan

ini memungkin adanya 221-2 (2097150) jaringan dengan 28-2 (254) host, atau sekitar

setengah juta alamat.

 Kelas D : Alamat ini digunakan untuk multicast

 Kelas E : Digunakan untuk selanjutnya.

Kelas A digunakan untuk jaringan yang memiliki jumlah host yang sangat banyak.

Sedangkan kelas C digunakan untuk jaringan kecil dengan jumlah host tidak sampai 254.

sedangkan untuk jaringan dengan jumlah host lebih dari 254 harus menggunakan kelas B.

4.1.3 Alamat IP yang perlu diperhatikan 

 Alamat dengan semua bit = 0, digunakan untuk alamat jaringan (network address). 

Contoh 192.168.1.0

 Alamat dengan semua bit = 1, digunakan untuk alamat broadcast (broadcast address). 

Contoh  192.168.1.255

 Alamat loopback, alamat dengan IP 127.0.0.0 digunakan sebagai alamat loopback 

dari sistem lokal.

4.2 IP Subnet

Perkembangan internet yang semakin pesat, menyebabkan penggunaan IP semakin banyak,

dan jumlah IP yang tersedia semakin lama semakin habis. Selain itu untuk pengaturan

48

jaringan juga semakin besar karena jaringannya yang semakin besar. Untuk itu perlu

dilakukan “pengecilan” jaringan yaitu dengan cara membuat subnet (subneting).

Sehingga bentuk dasar dari IP berubah dengan pertambahan subnetwork atau nomer subnet,

menjadi 

<nomer jaringan><nomer subnet><nomer host>

Jaringan bisa dibagi menjadi beberapa jaringan kecil dengan membagi IP address dengan

pembaginya yang disebut sebagai subnetmask atau biasa disebut netmask. Netmask memiliki

format sama seperti IP address.

Contoh penggunaan subnetmask :

 Dengan menggunakan subnetmask 255.255.255.0, artinya jaringan kita mempunyai

28-2 (254) jumlah host.

 Dengan menggunakan subnetmask 255.255.255.240, artinya pada kolom terakhir

pada subnet tersebut 240 bila dirubah menjadi biner menjadi 11110000. Bit 0

menandakan jumlah host kita, yaitu 24-2 (14) host.

4.2.1 Tipe dari subneting

Ada 2 tipe subneting yaitu static subneting dan variable length subneting.

4.2.1.1 Static subneting

Subneting yang digunakan hanya memperhatikan dari kelas dari IP address. Contoh untuk

jaringan kelas C yang hanya memiliki 4 host digunakan subneting 255.255.255.0.  Dalam hal

penggunaan ini akan memudahkan karena apabila ada penambahan host tidak perlu lagi

merubah subnetmask, tetapi akan melakukan pemborosan sebanyak 250 alamat IP.

4.2.1.2 Variable Length Subneting Mask (VLSM)

Subneting yang digunakan berdasarkan jumlah host. Sehingga akan semakin banyak jaringan

yang bisa dipisahkan.

4.2.1.3 Gabungan antara static subneting dan variable length subneting

Penggunaan subneting biasanya menggunakan static subneting. Tetapi karena suatu keperluan

sebagian kecil jaringan tersebut menggunakan variable length subneting. Sehingga

diperlukan router untuk menggabungkan kedua jaringan tersebut.

4.2.2 Cara perhitungan subnet 

4.2.2.1 Menggunakan static subneting

Suatu jaringan menggunakan kelas A, menggunakan IP 10.252.102.23. 

00001010 11111100 01100110 00010111 Alamat 32 bit

10 252    102           23 Alamat desimal

Artinya 10 sebagai alamat network dan 252.102.23 sebagai alamat host.

49

Kemudian administrator menentukan bahwa bit 8 sampe dengan bit ke 24 merupakan alamat

subnet. Artinya menggunakan subnetmask 255.255.255.0 (11111111 11111111 11111111

00000000 dalam notasi bit). Dengan aturan bit 0 dan 1 maka jaringan tersebut memiliki 216-2

(65534) subnet dengan masing-masing subnet memiliki jumlah host maksimum sebanyak 28-

2 (254).

4.2.2.2 Menggunakan variable length subneting

Suatu jaringan menggunakan kelas C, dengan IP address 165.214.32.0. Jaringan tersebut

ingin membagi jaringannya menjadi 5 subnet dengan rincian :

 Subnet #1 : 50 host

 Subnet #2 : 50 host

 Subnet #3 : 50 host

 Subnet #4 : 30 host

 Subnet #5 : 30 host

Hal ini tidak bisa dicapai dengan menggunakan static subneting. Untuk contoh ini, apabila

menggunakan subneting 255.255.255.192 maka hanya akan terdapat 4 subnet dengan

masing-masing subnet memiliki 64 host, yang dibutuhkan 5 subnet. Apabila menggunakan

subnet 255.255.255.224, memang bisa memiliki sampe 8 subnet tetapi tiap subnetnya hanya

memiliki jumlah host maksimal 32 host, padahal yang diinginkan ada beberapa subnet

dengan 50 host.

Solusinya adalah dengan membagi subnet menjadi 4 subnet dengan menggunakan

subnetmask 255.255.255.192 dan subnet yang terakhir dibagi lagi dengan menggunakan

subnetmask 255.255.255.224. Sehingga akan didapatkan 5 subnet, dengan subnet pertama

sampe ketiga bisa mendapatkan maksimal 64 host dan subnet ke empat dan kelima memiliki

32 host.

4.3 IP Routing

Fungsi utama dari sebuah IP adalah IP routing. Fungsi ini memberikan mekanisme pada

router untuk menyambungkan beberapa jaringan fisik yang berbeda. Sebuah perangkat dapat

difungsikan sebagai host maupun router.

Ada 2 tipe IP routing yaitu : direct dan indirect.

4.3.1 Tipe Routing

4.3.1.1 Direct Routing

Apabila host kita dengan tujuan berada dalam 1 jaringan. Maka data kita bila dikirimkan

ketujuan akan langsung dikirimkan dengan mengenkapsulasi IP datagram pada layer phisical.

Hal ini disebut dengan Direct Routing.

4.3.1.2 Indirect Routing

Apabila kita ingin mengirimkan suatu data ketujuan lain, dimana tujuan tersebut berada di

jaringan yang berbeda dengan kita. Maka untuk itu dibutuhkan 1 IP address lagi yang

digunakan sebagai IP gateway. Alamat pada gateway pertama (hop pertama) disebut indirect

route dalam algoritma IP routing. Alamat dari gateway pertama yang hanya diperlukan oleh

pengirim untuk mengirimkan data ke tujuan yang berada di jaringan yang berbeda.

50

Pada Gambar   4 .62 akan diperlihatkan perbedaan direct dan indirect routing.

Gambar  4.62 Direct dan Indirect Route – Host C memiliki direct route terhadap Host B dan D, dan memiliki

indirect route terhadap host A melalui gateway B

4.3.2 Table Routing

Menentukan arah dari berbagai direct route dapat dilihat dari list akan interface. Sedangkan

untuk list jaringan dan gatewaynya dapat dikonfigurasi kemudian. List tersebut digunakan

untuk fasilitas IP routing. Informasi tersebut disimpan dalam suatu tabel yang disebut tabel

arah (Routing Table).

Tipe informasi yang ada pada table routing antara lain :

1. Direct route yang didapat dari interface yang terpasang

2. Indirect route yang dapat dicapai melalui sebuah atau beberapa gateway

3. Default route, yang merupakan arah akhir apabila tidak bisa terhubung melalui direct

maupun indirect route.

Gambar  4.63 Skenario Table Routing

Gambar   4 .63 menyajikan contoh suatu jaringan. Table Routing dari host D akan berisikan :

51

Destination Router Interface

129.7.0.0 E Lan0

128.15.0.0 D Lan0

128.10.0.0 B Lan0

Default B Lan0

127.0.0.1 Loopback Lo

Host D terhubung pada jaringan 128.15.0.0 maka digunakan direct route untuk jaringan ini.

Untuk menghubungi jaringan 129.7.0.0 dan 128.10.0.0, diperlukan indirect route melalui E

dan B.

Sedangkan table routing untuk host F, berisikan :

Destination Router Interface

129.7.0.0 F Wan0

Default E Wan0

127.0.0.1 Loopback Lo

Karena jaringan selain 129.7.0.0 harus dicapai melalui E, maka host F hanya menggunakan

default route melalui E.

4.3.3 Algoritma IP routing

Algoritma routing digambarkan pada Gambar   4 .64.

Gambar  4.64 Algoritma Routing

52

4.4 Metode Pengiriman – Unicast, Broadcast, Multicast dan Anycast

Pengiriman data pada IP address umumnya adalah 1 paket pengiriman, hal ini disebut

Unicast. Koneksi unicast adalah koneksi dengan hubungan one-to-one antara 1 alamat

pengirim dan 1 alamat penerima. 

Untuk penerima dengan jumlah lebih dari 1 ada beberapa cara pengiriman yaitu broadcast,

multicast dan anycast. Dapat dilihat pada 

Gambar  4.65 Mode pengiriman data

4.4.1 Broadcast

Pengiriman data dengan tujuan semua alamat yang berada dalam 1 jaringan, mode

pengiriman data seperti ini disebut Broadcast. Aplikasi yang menggunakan metode ini akan

mengirimkan ke alamat broadcast. Contoh 192.168.0.255, apabila mengirimkan data ke

alamat ini maka semua host yang berada dalam jaringan tersebut akan menerima data.

4.4.2 Multicast

Pengiriman data dengan tujuan alamat group dalam 1 jaringan, mode pengiriman data ini

disebut Multicast. Alamat ini menggunakan kelas D, sehingga beberapa host akan didaftarkan

dengan menggunakan alamat kelas D ini. Apabila ada pengirim yang mengirimkan data ke

alamat kelas D ini akan diteruskan menuju ke host-host yang sudah terdaftar di IP kelas D ini.

4.4.3 Anycast

Apabila suatu pelayanan menggunakan beberapa IP address yang berbeda, kemudian apabila

ada pengirim mengirimkan data menuju ke pelayanan tersebut maka akan diteruskan ke salah

satu alamat IP tersebut, mode pengiriman ini disebut Anycast. Contoh: Apabila ada 5 server

dengan aplikasi FTP yang sama, maka apabila ada user mengakses pelayanan FTP tersebut

akan diarahkan ke salah satu dari 5 server tersebut.

4.5 IP Private - Intranet

Kebutuhan IP address beriringan dengan meningkatnya penggunaan internet. Karena jumlah

IP address yang digunakan semakin lama semakin habis. Untuk mengatasi permasalahan ini

dilakukan penggunaan IP Private. 

53

IP Private ini diatur dalam RFC 1918 – Address alocation for Private Internets. RFC ini

menjelaskan penggunaan IP address yang harus unik secara global. Dan penggunaan

beberapa bagian dari IP address tersebut yang digunakan untuk tidak terhubung langsung ke

internet. Alamat IP ini digunakan untuk jalur intranet. Alamat-alamat IP address tersebut

adalah :

 10.0.0.0 : digunakan untuk jaringan kelas A

 172.16.0.0 – 172.31.0.0 : digunakan untuk jaringan kelas B

 192.168.0.0 – 192.168.255.0 : digunakan untuk jaringan kelas C

Jaringan yang menggunakan alamat tersebut tidak akan diroutingkan dalam internet.

4.6 Classless Inter-Domain Routing (CIDR)

Apabila kita membutuhkan IP address dengan jumlah host 500 dengan kelas IP C, maka kita

harus memiliki 2 subnet. Karena untuk kelas C maksimal host adalah 254. Untuk masing-

masing subnet tersebut harus dimasukkan kedalam table routing pada perangkat router di

jaringan tersebut. 

Hal tersebut mengakibatkan jumlah entri dalam table routing akan semakin membengkak dan

akan menguras sumber daya perangkat. Untuk mengatasi hal tersebut dapat digunakan

Classless Inter-Domain Routing (CIDR). CIDR adalah routing yang tidak memperhatikan

kelas dari alamat IP. CIDR dibahas pada RFC 1518 sampai 1520.

Contoh : Untuk mengkoneksikan 500 host dengan alamat IP kelas C diperlukan 2 subnet. IP

a d d r e s s y a n g d i g u n a k a n a d a l a h 1 9 2 . 1 6 8 . 0 . 0 / 2 5 5 . 2 5 5 . 2 5 5 . 0 d e n g a n

192.168.1.0/255.255.255.0, sehingga table routing pada perangkat router juga ada 2 subnet.

Dengan menggunakan CIDR table routing pada perangkat cukup dengan menggunakan

alamat 192.168.0.0/255.255.252.0 dengan ini hanya diperlukan 1 entri table routing untuk

terkoneksi dengan jaringan tersebut.

4.7 IP Datagram

Unit yang dikirim dalam jaringan IP adalah IP datagram. Dimana didalamnya terdapat 

header dan data yang berhubungan dengan layer diatasnya. 

Gambar  4.66 Format IP Datagram

54

Dimana :

 VERS : versi dari IP yang digunakan. Versi 4 artinya menggunakan IPv4, 6 artinya 

IPv6.

 HLEN : panjang dari IP header

 Service : no urut quality of service (QoS)

 Total Length : jumlah dari IP datagram

 ID :  nomer data dari pengirim apabila terjadi fragmentasi

 Flags : penanda fragmentasi

 Fragment offset : no urut data fragmen bisa data telah di fragmentasi

 Time to Live (TTL) : lama waktu data boleh berada di jaringan, satuan detik

 Protocol : nomer dari jenis protokol yang digunakan

 Header checksum : digunakan untuk pengecekan apabila data rusak

 Source IP address : 32 bit alamat pengirim

 Destination IP Address : 32 bit alamat tujuan

 IP options : digunakan apabila data diperlukan pengolahan tambahan

 Padding : digunakan untuk membulatkan jumlah kolom IP options menjadi 32

 Data : data yang dikirimkan berikut header di layer atasnya.

4.7.1 Fragmentasi

Dalam perjalanannya menuju tujuan, data akan melewati berbagai macam interface yang

berbeda. Dimana masing-masing interface memiliki kemampuan yang berbeda untuk

mengirimkan frame data. Kemampuan ini disebut Maximum Transfer Unit (MTU). Batas

maksimum data dapat ditempatkan dalam 1 frame.

IP dapat memisahkan data yang terkirim menjadi sebesar MTU. Proses pemisahan ini disebut

fragmentasi (fragmentation).

55

5 Internetworking

5.1 Internet Control Message Protocol (ICMP)

Ketika router atau host tujuan menginformasikan sesuatu kerusakan pada IP datagram,

protokol yang digunakan adalah Internet Control Message Protocol (ICMP). Karakterisitk

dari ICMP antara lain :

 ICMP menggunakan IP

 ICMP melaporkan kerusakan

 ICMP tidak dapat melaporkan kerusakan dengan menggunakan pesan ICMP, untuk

menghindari pengulangan

 Untuk data yang terfragmentasi, pesan ICMP hanya mengirimkan pesan kerusakan

pada fragmentasi pertama

 Pesan ICMP tidak merespon dengan mengirimkan data secara broadcast atau

multicast

 ICMP tidak akan merespon kepada IP datagram yang tidak memiliki header IP

pengirim

 Pesan ICMP dapat membuat proses kerusakan pada IP datagram

Spesifikasi ICMP dapat dilihat pada RFC 792 dengan update RFC 950.

5.1.1 Pesan ICMP

Pesan ICMP dikirimkan dalam IP Datagram. Pada IP header, protokol akan berisikan no 1

(ICMP). Dan type of service (TOS) bernilai 0 (routine). Format ICMP dapat dilihat pada

Gambar   5 .67.

Gambar  5.67 Format Pesan ICMP

Keterangan :

 Type : jenis pesan :

o 0 : Echo reply

o 3 : Destination Unreacheable

o 4 : Source quench

o 5 : Redirect

o 8 : Echo

o 9 : Router Advertisement

o 10 : Router Solicitation

o 11 : Time exceeded

o 12 : Parameter problem

o 13 : Timestamp request

o 14 : Timestamp reply

o 15 : Information request (kadaluwarsa)

56

o 16 : Information reply (kadaluwarsa)

o 17 : Address mask request

o 18 : Address mask reply

o 30 : Traceroute

o 31 : Datagram conversion error

o 32 : Mobile host redirect

o 33 : IPv6 Where-are-you

o 34 : IPv6 I-Am-Here

o 35 : Mobile registration request

o 36 : Mobile registration reply

o 37 : Domain name request

o 38 : Domain name reply

o 39 : SKIP

o 40 : Photuris

 Code : berisikan balasan laporan kerusakan dari pesan ICMP yang dikirim.

 Checksum : digunakan untuk pengecekan kerusakan pesan ICMP yang dikirim.

 Data : berisikan pesan ICMP yang dikirimkan.

Penjelasan tentang jenis pesan ICMP

5.1.1.1 Echo (8) dan Echo reply (0)

Echo digunakan untuk mengecek keaktifan dari suatu host. Dimana apabila host tersebut aktif

akan dibales dengan pesan Echo Reply.

5.1.1.2 Destination Unreachable (3)

Pesan ini berasal dari suatu router dimana memberitahukan bahwa host tujuan tidak dapat 

dicapai (unreachable).

5.1.1.3  Source Quench (4)

Pesan ini berasal dari suatu router dimana router tidak memiliki ruang buffer untuk

meneruskan datagram.

5.1.1.4 Redirect (5)

Pesan ini berasal dari router, dimana host tersebut harus mengirimkan datagram berikutnya

kepada router yang berada pada jaringan yang dituju oleh pesan ICMP. 

5.1.1.5 Router Advertisement (9) dan Router Solicitation (10)

Pesan ini digunakan oleh router yang mempunyai protokol discover. Dimana router akan 

memberikan IP address kepada jaringannya dan host yang menerima IP address tersebut akan

membalas dengan pesan Router Solicitation.

5.1.1.6 Time Exceeded (11)

Pesan ini berasal dari router, dimana pesan yang dikirim sudah kehabisan waktu sesuai batas

TTL.

5.1.1.7 Parameter Problem (12)

Pesan ini diakibatkan pada proses persiapan untuk mengirimkan pesan ICMP ada kesalahan.

57

5.1.1.8 Timestamp Request (13) dan Timestamp Reply (14)

Pesan ini digunakan untuk proses debug.

5.1.1.9 Information Request (15) dan Information Reply (16)

Pesan yang digunakan untuk mendapatkan IP address, pesan ini sudah digantikan oleh ARP

dan RARP.

5.1.1.10 Address Mask Request (17) dan Address Mask Reply (18) 

Pesan ini digunakan untuk mendapatkan subnetmask dari suatu jaringan.

5.1.2 Aplikasi ICMP

Contoh aplikasi yang menggunakan protokol ICMP antara lain adalah : PING dan

TRACEROUTE.

5.1.2.1 PING

Ping adalah program tersederhana dari aplikasi TCP/IP. Ping mengirimkan IP datagram ke

suatu host dan mengukur waktu round tri